Hari itu menjelang magrib. Terlihat wanita muda bersama dengan ibunya baru saja pulang dengan membawa belanjaan. Entah apa itu isinya. Sesampainya di rumah mereka langsung membuka barang bawaan  mereka. Ternyata tas isinya. Sambil dipakai dengan senyum senang mereka memperagakan layaknya sedang akan difoto. Tas itu bertuliskan sebuah brand terkenal. Sudah pasti harganya pun sebanding dengan nama brand tersebut. Ibunya mengatakan rasa terima kasih kepada anaknya karena sudah dibelikan tas branded yang jarang – jarang ia punya. Ternyata anaknya lah yang telah membelikan itu semua. Setelah puas untuk mencobanya kemudian mereka istirahat sejenak di kursi ruang keluarga.

Tak berselang lama datang seorang pria yang ternyata adalah ayahnya. Mereka langsung bercerita tentang hasil belanjanya tadi. Dan mereka kemudian mengambil tas yang baru saja dibelinya untuk menanyakan respon tentang tas tersebut. Ayahnya sambil tersenyum memberikan argumen yang baik. Ayahnya berkata bahwa tas itu sangat bagus pasti mahal. Anaknya hanya tersenyum dan berkata,

“Iya lagi ingin beliin buat ibu, nah kalo ayah lagi ingin apa? ntar dibeliin juga.”

“Ah ayah mah ga usah dibeliin apa – apa. Yang udah ada aja ga apa – apa. Ayah mah ingin anak – anak cepet sukses aja. Itu aja.

“Ih gapapa, sekali – kali dibeliin apa gtu..”

“Udah ga usah, ayah mah ga biasa pake barang – barang mahal.”

“……..”

Setelah itu adzan magrib berkumandang, mereka semua menghentikan segala aktifitas untuk menunaikan solat magrib.

Mereka semua adalah keluarga saya. Ibu, Ayah, dan Kaka. Sudah tidak aneh jika ayah saya tidak mau dibelikan apa – apa. Yang saya tau, dari dulu ayah saya memang terlihat sangat sederhana. Mungkin karena dari kecilnya dididik untuk sederhana oleh kakek nenek saya. Dan secara tidak langsung ayah saya pun mengajarkan saya untuk hidup sederhana. Karena kesederhanaan menunjukan bagaimana kita bisa menghargai materi. :)

Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan teman yang sekarang bekerja di Kalimantan. Kebetulan waktu itu dia sedang di Bandung. Obrolan – obrolan ringan langsung terjadi. Ketika semua kehabisan bahan buat diobrolkan, kemudian teman saya bertanya tentang wanita.

“Kabogoh maneh saha jare ayeuna?”

“Can aya euy, santey da urang mah nteu nargetkeun boga kabogoh. Berjalan weh sugan aya nu beunang ngke…”

Singkat cerita teman saya langsung bercerita tentang apa saja yang dibutuhkan jika kita suka dengan seorang wanita. Menurutnya ada 3 hal yang harus kita ketahui jika lelaki menyukai wanita, yaitu

1. Mata

Mata menjadi nomer satu karena semua itu berawal dari mata. Kita melihat wanita itu cantik, matanya indah, idungnya mancung, dll karena kita bisa melihat dia dengan mata. Kemudian kita merasa cocok dengan wanita itu.

2. Hati

Setelah kita merasa cocok dengan pilihan kita tadi , apakah itu semua dengan hati ? Apa hanya suka karena nafsu sesaat ? Nampaknya jika sudah pakai hati kita akan merasa yakin sekali dengan pilihan kita. Tapi sebenarnya masi ada satu lagi yang harus kita lihat.

3. Fitrah

Maksud fitrah disini adalah kebiasaan hidup wanita itu. Apakah sebanding atau kita di atasnya atau malah kita di bawahnya. Karena fitrah seseorang itu beda – beda. Kalau fitrah kita di bawah fitrah wanita, lebih baik jangan dijadikan pacar atau pasangan hidup.

Tulisan saya di atas hanya argumentasi dari seorang teman. Jika itu benar boleh di lakukan. Tetapi jika kalian tidak sependapat jangan dijadikan acuan.

When you love somone but it goes to waste..

Could  it be worse??

Itulah sepenggal lirik dari lagunya Coldplay berjudul Fix You. Mungkin hal ini pernah terjadi pada diri kalian. Sebentar, bukan berarti ini terjadi pada diri saya. Saya hanya akan bercerita sedikit tentang kejadian yang menimpa sahabat saya beberapa hari yang lalu.

Panggil saja dia sibrey (untuk merahasiakan nama asli sahabat saya). Sibrey telah lama jatuh hati pada seorang wanita. Berawal dari pertemuannya pada malam Pendidikan Dasar Guardian SMAN 2 Bandung. Setelah pertemuan itu mereka terlihat semakin akrab. Entah sms, chating, dll sudah mereka lakukan semenjak itu. Wanita itu pun sering sekali ikut bermain dengan teman – teman sibrey termasuk saya. Sudah tidak ada lagi canggung diantara kita karena saking dekatnya pertemanan kita. Wanita itu terlihat sangat nyaman berteman dengan kita, termasuk dengan sibrey kalau saya lihat.

Semakin hari mereka semakin dekat, semkin mengenal diri mereka masing – masing. Saya tahu kalau sibrey memang ingin lebih dari sekedar teman biasa. Tapi apa yang ada di dalam hati wanita itu, saya tidak tahu. Hingga ahirnya kejadian itu terjadi. Malam minggu kemarin sibrey telah merencanakan sesuatu yang spesial, yaitu sebuah kejutan kecil untuk wanita itu. Equador Rose, sekuntum mawar biru yang hanya ada pada bulan Februari telah sibrey dapatkan. Mukanya terpancar akan optimismenya untuk memberikan kejutan itu. Malam itu saya, sibrey, wanita itu, dan beberapa teman yang lainnya sedang berkaraoke. Sibrey nampak tidak semangat ketika di dalam studio. Sibrey merasa kecewa karena wanita itu malah lebih dekat ke teman saya, sebut saja dia vikdet. Ketika pulang sibrey sempat bertanya pada wanita itu,

“kmu bareng vikdet apa aku ?”

“bareng jare” katanyaa..

kebetulan jare dan vikdet semobil. Sibrey langsung mengambil kesimpulan kalau wanita itu lebih milih ama vikdet. Kekecewaan pun langsung terpancar dari wajah sibrey. Saya pun merasa sangat kasihan padanya. Rencana pun berubah. Sibrey ahirnya akan memberikan bunga itu disaat wanita sudah pulang. Semenjak itu sibrey tak banyak berkata, mukanya lesu memendam kekecewaan. Kalian tahu? Sibrey sudah merencanakan jauh – jauh hari tentang ini. Jika sesuai rencana setelah memberi kejutan bunga equador rose yang hanya ada pada bulan februari tadi, dia akan menembak wanita itu di hari valentine. Tapi semuanya tidak sesuai rencana. Gagal ! Dan kini wanita itu pun memang benar – benar dekat dekat vikdet.

Sampai tulisan ini saya buat, sibrey masih menyimpan rasa kekecewaan yang mendalam.

Berdiri Teman !

Malam itu gerimis menyelimuti Bandung. Cuaca dingin membuat perut terasa lapar. Bergegaslah saya menuju angkringan, tempat makan di jl Riau. Ketika itu saya berdua bersama teman, Agit namanya. Motor saya parkirkan tepat di belakang angkringan itu. List order langsung saya ambil untuk memesan makan. Nasi kucing, sate kulit ayam, tempe bacem, dan segelas tes hangat menjadi menu makan malam pada waktu itu. Tanpa basa basi saya langsung lahap semua makanan itu.

Ketika makan saya baru sadar ada 2 orang anak kecil perempuan yang juga sedang makan di sebelah kiri saya. Makan nasi kucing saja yang saya lihat. Kemudian di bangkunya terlihat koran yang dibalut plastik.

“Om, koran nya om..”

“Bentar yaa makan dulu..”

“Iya om..”

Terjadi sedikit komunikasi ketika saya sedang makan. Beres makan kemudian saya ajak ngobrol lagi ke 2 anak itu.

“sekolah ga de.. ?? “

“sekolah atuh om..di sd (sy lupa namanya) deket ppj (PVJ maksudnya)”

“kelas berapa ??”

“kelas 3 om..”

mereka menjawab semua pertanyaan saya dengan biasa saja, polos tanpa ada rasa canggung. Mereka adalah kakak beradik. Masih sekolah di tingkat SD kelas 3 dan adiknya kelas 2. Mereka berdua banyak bercerita tentang aktifitasnya setiap hari. Mereka adalah penjual koran di FO Jl Riau. Mereka mulai bekerja setiap hari sehabis pulang sekolah jam 3 sore dan pulang jam 1o malam katanya. Banyak sekali yang mereka ceritakan.

Kemudian kita jadi terbawa suasana seolah kita sudah kenal dari dulu. Mereka begitu antusias, atraktif, dan tidak ada rasa canggung. Sesekali mereka berdua bercanda, bercanda antara kaka dan adik. Mereka cerita lagi tentang pengalaman horror mereka. Adiknya pernah melihat sosok kuntilanak di Jl Cihampelas. Kakaknya pernah melihat suster, kunti, dan pocong (mereka tidak mau menyebutnya, mereka menyebutnya “leupeut”) di RS Halmahera yang kebetulan ada di sebrang kita. Setiap mereka meragakan bentuknya, mereke selalu meminta maaf karena memeragakan apa yang dia lihatnya. Katanya takut didatangi lagi. Terus mereka cerita tentang pengalaman hidupnya. Kalian tahu apa yang ada di pikiran saya? Saya pikir mereka adalah anak – anak cerdas. Terlihat dari bagaimana dia berinteraksi dan berbicara. Sayang mereka dididik menjadi penjual koran oleh ibunya.

“kamu udah makan belum..?”

“udah tadi makan nasi kucing aja..”

“yaudah sok pesen lg aja, km mau apa?”

“itu om sate ayam, adik sy pgn tempe bacem”

Kemudian mereka makan. Hampir saja saya lupa menanyakan namanya. Ine adalah kakaknya, sedangkan adiknya bernama Novi. Beres makan dia bercerita lagi tentang monster.

“iya om, jd ada namanya pak agus yang suka ngambilin koran kita. kadang – kadang suka ada yang ditendang ama monster itu. katanya ga boleh jualan koran disini….”

Masih saja ada yang menindas kaum kecil. Miris saya mendengarnya. Tak terasa waktu sudah jam 9 malem. Kemudian mereka mengeluh,

“aduh hari ini belum kejual korannya, klo ga kejual suka dimarahin ibu saya”

terus menerus mereka mengeluh seolah mereka meminta uang tapi dengan cara halus. Cerdas ! Yasudah karena merasa kasihan saya kasih mereka uang.

Banyak hikmah yang saya bisa ambil. Kalo kalian baca postingan saya sebelumnya tentang hidup tidak adil, mungkin bagi mereka hidup ini benar – benar sangat tidak adil sekali. Dari situ saya bersyukur saya masi diberi kenikmatan yang berlebih dibandingkan dengan Ine dan Novi. Teman, lebih seringlah kalian melihat ke orang – orang di bawah kalian karena dengan itu kita bisa bersyukur bahwa kita masih diberi kenikmanatan dibanding orang – orang di bawah kita. Saya doakan semoga Ine dan Novi bisa tercapai cita – citanya. Mereka bercita – cita ingin jadi dokter. Amin :’)

HIDUP INI KERAS BUNG !!

Oiya, mereka sempat saya foto. Mereka berpose layaknya model. Terpancar dari wajahnya mereka sangat senang sekali difoto. Inilah mereka..

Malam ini entah mengapa terasa sangat sepi, sangat tidak enak untuk berbuat apa – apa. Perasaan hati saya sedang terpuruk. Hidup terkadang tak adil. Rasanya ingin sekali untuk teriak meminta jawaban dari Allah mengapa hidup ini tak adil.

Disaat orang sekeliling saya begitu gampang ingin mendapatkan yang mereka inginkan, sedangkan saya terkadang tidak pernah bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.

Disaat mereka menceritakan tentang liburannya ke luar negeri, saya hanya bisa berkhayal atau melihatnya lewat televisi.

Disaat orang sekeliling saya mampu membeli ini itu, saya malah berfikir keras bagaimana caranya mendapatkan ini itu.

Disaat orang – orang hanya membuang uang orang tuanya, saya hanya berusaha untuk menghemat uang pemberian orang tua.

Disaat semuanya bisa tertawa, saya pun tertawa walaupun sebenarnya tidak.

Yah, begitulah hidup. Terkadang bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Tapi kita harus yakin bahwa Allah telah memberikan jalannya masing – masing kepada kita.

Cita-citaku ingin menjadi Polwan.
Mana mungkin aku seorang lelaki.
Oh Tuhan tolong hambamu.
Aku tak sudi jadi Bapak Polwan.

Cita-citaku ingin jadi Bu Ahmad
Mana mungkin aku seorang lelaki.
Oh ibu jangan paksa aku.
Aku tak sudi jadi Bapak Ahmad.

Sedih hatiku sedih.
Terlahir sebagai seorang lelaki.
Oh tuhan tolong hambamu.
Terlahir sebagai seorang lelaki.
Oh ibu jangan paksa aku.
Ini bukan jaman Siti Nurbaya.
Lagi.

Cita-citaku ingin menjadi tomboy.
Mana mungkin aku seorang lelaki.
Oh tuhan tolong hambamu.
Aku tak sudi jadi lelaki. Tomboy.

Cita-citaku ingin jadi lesbian.
Mana mungkin aku seorang lelaki.
Oh Ibu jangan paksa aku.
Aku tak sudi menjadi. Homoseks.

Mengapa saya posting ini?. Yaps, kemarin secara tidak sengaja saya mendengarkan lagu ini di kosan temen. Kalian tahu kan ini lirik lagu ? Jadi bukan cita – cita saya..

Ini adalah lirik lagu dari The Panas Dalam. Entah apa yang ada di benak sang pencipta lagu ini. Tapi setahu saya, penciptanya (Pidi Baiq) adalah seorang seniman yang ngawur. Kalian bisa baca buku – bukunya The Drunken Series.

Tapi kalian udah penah denger lagunya kan?? Kalau belum, silahkan saja untuk download di sini ..Mantap lagunya :)

About Author

Chat With Me

Anda pengunjung yang ke-

  • 6,360 Semoga bermanfaat

My Status Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.