Malam itu gerimis menyelimuti Bandung. Cuaca dingin membuat perut terasa lapar. Bergegaslah saya menuju angkringan, tempat makan di jl Riau. Ketika itu saya berdua bersama teman, Agit namanya. Motor saya parkirkan tepat di belakang angkringan itu. List order langsung saya ambil untuk memesan makan. Nasi kucing, sate kulit ayam, tempe bacem, dan segelas tes hangat menjadi menu makan malam pada waktu itu. Tanpa basa basi saya langsung lahap semua makanan itu.

Ketika makan saya baru sadar ada 2 orang anak kecil perempuan yang juga sedang makan di sebelah kiri saya. Makan nasi kucing saja yang saya lihat. Kemudian di bangkunya terlihat koran yang dibalut plastik.

“Om, koran nya om..”

“Bentar yaa makan dulu..”

“Iya om..”

Terjadi sedikit komunikasi ketika saya sedang makan. Beres makan kemudian saya ajak ngobrol lagi ke 2 anak itu.

“sekolah ga de.. ?? “

“sekolah atuh om..di sd (sy lupa namanya) deket ppj (PVJ maksudnya)”

“kelas berapa ??”

“kelas 3 om..”

mereka menjawab semua pertanyaan saya dengan biasa saja, polos tanpa ada rasa canggung. Mereka adalah kakak beradik. Masih sekolah di tingkat SD kelas 3 dan adiknya kelas 2. Mereka berdua banyak bercerita tentang aktifitasnya setiap hari. Mereka adalah penjual koran di FO Jl Riau. Mereka mulai bekerja setiap hari sehabis pulang sekolah jam 3 sore dan pulang jam 1o malam katanya. Banyak sekali yang mereka ceritakan.

Kemudian kita jadi terbawa suasana seolah kita sudah kenal dari dulu. Mereka begitu antusias, atraktif, dan tidak ada rasa canggung. Sesekali mereka berdua bercanda, bercanda antara kaka dan adik. Mereka cerita lagi tentang pengalaman horror mereka. Adiknya pernah melihat sosok kuntilanak di Jl Cihampelas. Kakaknya pernah melihat suster, kunti, dan pocong (mereka tidak mau menyebutnya, mereka menyebutnya “leupeut”) di RS Halmahera yang kebetulan ada di sebrang kita. Setiap mereka meragakan bentuknya, mereke selalu meminta maaf karena memeragakan apa yang dia lihatnya. Katanya takut didatangi lagi. Terus mereka cerita tentang pengalaman hidupnya. Kalian tahu apa yang ada di pikiran saya? Saya pikir mereka adalah anak – anak cerdas. Terlihat dari bagaimana dia berinteraksi dan berbicara. Sayang mereka dididik menjadi penjual koran oleh ibunya.

“kamu udah makan belum..?”

“udah tadi makan nasi kucing aja..”

“yaudah sok pesen lg aja, km mau apa?”

“itu om sate ayam, adik sy pgn tempe bacem”

Kemudian mereka makan. Hampir saja saya lupa menanyakan namanya. Ine adalah kakaknya, sedangkan adiknya bernama Novi. Beres makan dia bercerita lagi tentang monster.

“iya om, jd ada namanya pak agus yang suka ngambilin koran kita. kadang – kadang suka ada yang ditendang ama monster itu. katanya ga boleh jualan koran disini….”

Masih saja ada yang menindas kaum kecil. Miris saya mendengarnya. Tak terasa waktu sudah jam 9 malem. Kemudian mereka mengeluh,

“aduh hari ini belum kejual korannya, klo ga kejual suka dimarahin ibu saya”

terus menerus mereka mengeluh seolah mereka meminta uang tapi dengan cara halus. Cerdas ! Yasudah karena merasa kasihan saya kasih mereka uang.

Banyak hikmah yang saya bisa ambil. Kalo kalian baca postingan saya sebelumnya tentang hidup tidak adil, mungkin bagi mereka hidup ini benar – benar sangat tidak adil sekali. Dari situ saya bersyukur saya masi diberi kenikmatan yang berlebih dibandingkan dengan Ine dan Novi. Teman, lebih seringlah kalian melihat ke orang – orang di bawah kalian karena dengan itu kita bisa bersyukur bahwa kita masih diberi kenikmanatan dibanding orang – orang di bawah kita. Saya doakan semoga Ine dan Novi bisa tercapai cita – citanya. Mereka bercita – cita ingin jadi dokter. Amin :’)

HIDUP INI KERAS BUNG !!

Oiya, mereka sempat saya foto. Mereka berpose layaknya model. Terpancar dari wajahnya mereka sangat senang sekali difoto. Inilah mereka..

Advertisement